Yang Harus Dipertimbangkan dalam Memilih Lotus Birth

Yang Harus Dipertimbangkan dalam Memilih Lotus Birth

Sudah mendengar mengenai metode persalinan dengan cara lotus birth? Metode yang satu ini sampai sekarang masih penuh pro kontra. Namun tidak bisa dimungkiri, mendengar metode ini bisa jadi membuat Anda tertarik untuk melakukannya. Lotus birth merupakan metode persalinan di mana tidak ada pemotongan atau penjepitan tali pusat untuk memisahkan plasenta dengan bayi. 

Metode ini mengusung pelepasan plasenta terjadi secara alami tanpa intervensi alat apapun. Oleh banyak tenaga medis, metode ini kerap diperingati dengan keras mengenai keamanannya. Namun tidak bisa dimungkiri, peminat metode lotus birth dari waktu ke waktu bertambah, walaupun jumlahnya memang tergolong minim. 

Apakah Anda tertarik menjalani metode persalinan yang satu ini? Jika masih ragu-ragu, coba pertimbangkan ulang dengan memikirkan berbagai hal di bawah ini. 

Fasilitas Sangat Terbatas

Masih langkanya orang-orang yang memilih melahirkan dengan metode lotus birth membuat banyak fasilitas kesehatan tidak menyediakan layanan untuk melahirkan dengan metode yang satu in. Ditambah lagi, sejak tahun 2008, metode melahirkan tanpa menggunting plasenta kerap dikritik oleh tenaga medis karena dianggap belum memiliki riset yang memadai dan rentan berisiko untuk ibu maupun anak yang dilahirkan. 

Menunggu Plasenta Keluar 

Ketika akhirnya memutuskan melahirkan dengan metode lotus birth, Anda mungkin harus diam di tempat setelah bayi lahir. Pasalnya, Anda masih harus menunggu plasenta keluar. Kira-kira waktu yang dibutuhkan untuk keluarnya plasenta berkisar 5-30 menit setelah bayi lahir. Pastikan Anda membawa wadah yang steril untuk menaruh dan membawa plasenta ke manapun. 

Kemungkinan Berbau Tajam 

Plasenta yang dibiarkan tanpa pemotongan tali pusar sangat mungkin berbau anyir darah. Bau tersebut akan terus mengganggu indra penciuman Anda sampai plasenta benar-benar mengering dan membusuk hingga tali pusar akan terlepas dari perut bayi Anda. Untuk meredam bau dari plasenta, banyak orang menempuh cara menggosokkan garam dan rempah-rempah pada plasenta tersebut. 

Gerakan Menjadi Terbatas 

Ketika seorang ibu baru memiliki bayi baru lahir yang masih terhubung ke plasenta, ini memaksa ibu untuk bergerak perlahan, hati-hati, dan minimal. Khususnya gerakan ini menjadi makin ekstrem ketika Anda harus menggendong si kecil. Pasalnya, bayi masih harus membawa plasenta ke manapun hingga akhirnya bisa putus dengan sendirinya secara perlahan. Gerakan yang agak kencang bisa menarik tali plasenta sehingga berisiko pada pemutusan yang tidak steril dan berbahaya bagi bayi. 

Penggantian Wadah Tiap Hari 

Anda harus memiliki wadah yang cukup banyak untuk menaruh plasenta yang masih terhubung dengan sang buah hati. Plasenta wajib diganti wadahnya tiap hari agar tetap steril. Pastikan pula melakukan perawatan pembersihan yang hati-hati agar plasenta tidak menimbulkan infeksi kepada anak Anda. 

Pakaian dengan Bukaan Tengah 

Anda mungkin akan bingung memilih pakaian anak ketika masih ada sambungan tali pusar dan plasentanya. Disarankan Anda memakaikan anak menggunakan baju dengan bukaan kancing depan. Model pakaian ini bisa memberi lubang yang cukup luas di bagian pusar bayi, sekaligus bisa menutupi area tubuh bayi secara keseluruhan agar ia tetap hangat. Pemakaian bedong pun menjadi tidak bisa dilakukan jika Anda memilih melahirkan dengan metode lotus birth. 

Susah untuk Mandi 

Anda mungkin ingin menjaga bayi tetap dengan memandikannya setiap hari. Namun, lupakan dahulu niat tersebut jika plasenta belum terlepas. Akan sangat sulit memandikan bayi dengan tali pusar yang masih terhubung dengan plasenta. Jika pun Anda ingin memaksakan bayi bisa mandi, Anda bisa mempertimbangkan penggunaan spons atau waslap untuk sekadar membasuhnya. 

Risiko Infeksi Besar 

Membiarkan plasenta di luar dan “hidup” bersama bayi sampai terputus sendiri bukannya tanpa risiko. Beberapa penelitian menunjukkan, bayi-bayi yang dilahirkan dengan metode lotus birth rentan mengalami penyakit kuning akibat bilirubin tinggi. Selain itu, risiko infeksi lebih mudah dialami oleh sang buah hati selama plasenta masih tersambung dengan pusarnya. 

*** 

Jika memang ingin benar-benar melakukan metode persalinan lotus birth, pencarian tenaga kesehatan yang memang benar-benar ahli mutlak diperlukan. Pengawasan terhadap bayi selama plasenta belum terlepas juga perlu ekstra dilakukan untuk bisa melakukan penanganan apabila infeksi benar-benar terjadi.

Cara Mengatasi Puting Lecet Saat Menyusui yang Tepat

Cara Mengatasi Puting Lecet Saat Menyusui yang Tepat

Puting lecet merupakan kondisi di mana terdapat iritasi, luka kerak, dan nyeri pada bagian puting. Puting lecet saat menyusui paling sering terjadi karena posisi yang tidak benar.

Apabila Anda mengalami puting yang lecet karena menyusui, umumnya bisa dengan mudah diatasi di rumah. Simak penjelasan bagaimana cara mengatasi puting lecet dengan tepat agar Anda dapat kembali menyusui dengan nyaman.

Cara mengatasi puting lecet saat menyusui

Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi puting lecet saat menyusui, beberapa di antaranya adalah:

1. Mengoleskan ASI

Anda bisa mengoleskan ASI di bagian yang lecet, baik dari ASI yang menetes maupun yang telah diperah sebelumnya. ASI dapat membantu melembabkan puting dan mengurangi pembengkakan payudara serta meredakan iritasi, namun tidak disarankan melakukannya apabila lecet tersebut disebabkan oleh infeksi jamur.

2. Gunakan krim atau jeli pelembab

Banyak sekali krim ataupun jeli yang dijual sebagai obat untuk mengatasi puting yang lecet, terutama yang mengandung lanolin dan vaseline. Aplikasikan setelah Anda menyusui, dan sebaiknya bersihkan sisanya dengan mengelapnya perlahan sebelum menyusui kembali.

3. Kompres atau basuh dengan air hangat

Basuh atau kompres puting dengan air hangat setelah menyusui dapat membantu menyembuhkan puting yang lecet. Anda bisa mengompresnya dengan menggunakan handuk kecil yang direndam dalam air hangat, namun hindari mengeringkannya dengan hair dryer atau dijemur di bawah sinar matahari.

4. Oleskan minyak peppermint

Banyak ahli yang menyarankan untuk mengaplikasikan minyak peppermint pada puting yang lecet. Bahkan mereka menyebutkan minyak peppermint lebih efektif daripada ASI dalam menyembuhkan kondisi ini.

5. Mengubah posisi menyusui

Mengubah posisi menyusui akan mengurangi dan mengatasi puting yang lecet, ganti dengan posisi yang nyaman bagi Anda dan juga bayi. Pastikan memasukkan seluruh puting ke dalam mulut bayi, lakukan teknik relaksasi pernapasan, dan ganti payudara setiap kali menyusui. 

Apabila setelah Anda mencoba mengubah posisi menyusui dan tidak mengalami lecet setelah menyusui, Anda bisa tetap melanjutkannya dan biarkan luka lecet sembuh.

Berapa lama puting yang lecet akan sembuh bisa berbeda-beda tergantung dari keparahan kondisi yang dialami. Jika hanya lecet ringan dan nyeri, biasanya cukup beberapa jam atau hari saja sudah sembuh.

Namun jika lukanya terlalu besar, dalam, mengeluarkan nanah atau bahkan darah, bisa memakan waktu 2-3 minggu. Ketika jenis luka ini Anda alami, gunakan krim untuk mencegah kerak muncul dan mempercepat pemulihan lecet.

Penting untuk diingat bahwa tidak perlu mengaplikasikan krim, minyak, maupun ASI terlalu banyak. Sebab kondisi puting yang terlalu lembap justru bisa memperburuk gejala yang Anda alami.

Hindari penggunaan bra pad yang tidak berbahan ringan atau menyerap keringat karena bisa menahan kelembapan di bagian puting. Bersihkan bagian puting hanya dengan air bersih, tidak perlu menggunakan sabun apalagi dengan kandungan yang cukup keras.

Hindari penggunaan nipple shield saat menyusui karena bisa membuat payudara menjadi terlalu lembap dan memperburuk gejala. Jangan pernah mengeringkan puting dengan hair dryer atau di bawah sinar matahari karena bisa membuat kulit dehidrasi dan menambah kerusakan pada jaringan payudara yang lembut. 

Anda bisa berhenti menyusui apabila kondisi sudah terlalu parah dan menyakitkan jika digunakan untuk menyusui, namun kondisi ini jarang sekali terjadi. 

Konsultasikan pada dokter jika Anda mengenali adanya tanda-tanda infeksi pada puting lecet saat menyusui, seperti pembengkakan yang tidak normal, peradangan, keluar nanah, demam, atau rasa sakit, serta jika luka lecet Anda tidak segera sembuh setelah beberapa minggu atau setelah mengganti posisi menyusui.